ISPA Hantui Balita dalam Kepungan Asap

Kabut asap akibat karhutla sangat berpotensi meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Barat, dengan balita sebagai kelompok rentan. Sebanyak 6.129 kasus tercatat di minggu ke-37 dan menjadi angka tertinggi sepanjang 2023. Berbanding lurus dengan banyaknya sebaran titik panas dan kualitas udara yang buruk di Kalbar.

Syahriani Siregar, Pontianak

Cuaca panas terik, abu beterbangan dan asap tebal bukan hal yang baru bagi masyarakat Kalimantan Barat. Seakan sudah menjadi makanan sehari-hari pada periode tertentu.

Setiap tahunnya ada beberapa bulan dengan kondisi kualitas udara yang begitu buruk akibat ratusan titik api menyebar di provinsi yang memiliki luas perkebunan sawit 2.039.203 hektare ini (Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat), terbesar ketiga di Indonesia setelah Riau dan Sumatera Utara.

Periode Agustus – Oktober menjadi periode yang paling parah kabut asap di Kalimantan Barat.

Maraknya kabut asap membuat sejumlah warga resah terutama yang memiliki balita. Walaupun sudah terbiasa dengan kehadiran asap namun tetap saja membuat para ibu kewalahan.

Salah satunya Feni Ariyani (32), ibu muda yang memiliki dua anak penderita asma. Feni dan keluarga tinggal di jantung Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, yang kerap dilanda kabut asap.

Ketapang merupakan produsen kelapa sawit terbesar di Kalbar, sekitar 1.293.690 ton per tahun berdasarkan data BPS 2022.

Upaya perluasan perkebunan kelapa sawit di Ketapang kini mencapai 673.148 hektare, sering kali diwarnai dengan pembakaran lahan yang memicu bencana kabut asap

Kondisi kabut asap di kawasan Pelang Sungai Melayu, Ketapang pada Sabtu (2/9). Petugas berjibaku untuk memadamkan api saat terjadi kebakaran hutan dan lahan. (IST)

Hampir di setiap periode kabut asap, asma Feni dan anak-anaknya rentan kambuh. Apalagi si sulung yang kini berusia empat tahun pernah mengalami pneumonia saat masih berusia satu bulan.

“Tahun 2019 lalu terjadi kabut asap parah, anak sulung saya baru berumur satu bulan saat itu dan harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama,” kenang Feni.

Jika bencana kabut asap melanda hingga ke pemukiman, maka Feni dan keluarga akan mengurung diri di rumah sampai udara kembali membaik.

Buruknya kualitas udara di Kalbar pada bulan Agustus hingga Oktober lalu juga dirasakan oleh Fitria (28). Puterinya, Fania, yang masih berusia 15 bulan harus menderita ISPA pada pertengahan bulan Agustus 2023 lalu.

Warga Kubu Raya ini harus bolak balik rumah sakit dua kali dalam waktu sebulan. Kabupaten yang memiliki luas perkebunan kelapa sawit terbesar keempat di Kalbar ini tak luput dari serangan karhutla dan kabut asap.

Fitria menduga buah hatinya menderita ISPA karena tertular dari dirinya. Ia mengaku sebelum anaknya sakit, ia sempat mengalami radang tenggorakan dan pilek.

“Tiga hari saya sakit, tapi tidak sampai demam. Namun, begitu saya membaik, anak saya tiba-tiba pilek. Saya kira pilek biasa, tapi setelah dua hari, ia batuk-batuk dan demam sampai 39,2 derajat celcius,” jelas Fitria kepada Pontianak Post pada Selasa (12/12).

Fitria memutuskan untuk membawa putrinya ke dokter spesialis anak. Kondisi Fania pun membaik, demamnya mereda namun batuk pileknya masih bertahan hingga tiga mingguan.

Setelah membaik dan sebulan tidak keluar rumah, Fitria pun membawa puterinya keliling komplek hanya untuk berjalan-jalan sore. Niat hati ingin melepas kepenatan karena lama tidak keluar rumah namun apa daya Fania kembali sakit.

“Anak saya tiba-tiba demam lagi karena sore saya ajak keliling keluar rumah. Ternyata udara belum membaik. Fania kembali batuk dan pilek, malah makin tinggi demamnya.” beber Fitria.

Akibat demam yang tak kunjung sembuh selama empat hari, Fitria membawa anaknya ke rumah sakit.

Saat di rumah sakit, ia harus mengantre panjang, sebagian besar adalah balita dan anak-anak. Dokter juga mengatakan kepadanya bahwa pada periode tersebut bayi dan anak-anak rentan terjangkit ISPA.

“Begitu mendengar keluhan saya, dokter langsung menghela nafas, mungkin karena rata-rata pasiennya terkena ISPA,” ujarnya.

Balita Kelompok Rentan Terkena ISPA

Secara global, menurut data dari UNICEF sebanyak satu miliar anak di dunia mengalami keterpaparan tingkat tinggi terhadap polusi udara dalam kadar amat tinggi.

Anak-anak di Kalimantan Barat menjadi salah satu yang tak lepas dari ancaman tersebut karena Kalbar merupakan salah satu provinsi yang memiliki polisi udara tidak sehat.

Berdasarkan Pantauan Kualitas Udara Terkini dari BMKG, sepanjang Agustus-Oktober, kualitas udara di Kalimantan Barat memasuki kategori Tidak Sehat.

Berdasarkan aplikasi Indeks Standar Pencemaran Udara Net. sempat tercatat data BMKG pada Minggu (3/9) pukul 20.00, kualitas udara di Kubu Raya memasuki level berbahaya. Angka PM 2,5 tercatat 276,2 mikrogram per meter kubik. Pada Senin pukul 03.00, kualitas udara berada di level tidak sehat.

Kualitas udara di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menyentuh level berbahaya pada Minggu (3/9/2023). (Aplikasi Indeks Standar Pencemaran Udara Net)

ISPA menjadi gangguan kesehatan yang sering timbul akibat udara yang tidak sehat karena kabut asap yang tebal.

Menurut Sukarni, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan mulai dari hidung sampai alveoli termasuk adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura).

Penyakit ini diawali dengan rasa panas, kering dan gatal, kemudian diikuti bersin secara terus menerus.

Hidung juga mengalami sumbatan dengan sekret encer, demam dan nyeri kepala, permukaan mukosa hidung tampak merah sehingga mengalami peradangan.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013-2018 prevalensi penyakit ISPA di Indonesia sebesar 4,4%.

Prevalensi penderita ISPA yang paling tinggi yaitu di Provinsi Papua yang mencapai 10,5%. Kalimantan Barat menjadi urutan ke 20 penderita ISPA dengan prevalensi sebesar 3,2%.

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan dalam risetnya di Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat jumlah kasus ISPA paling banyak diakibatkan kabut asap pada bulan Agustus-Oktober.

Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Soedarso, Nevita mengatakan infeksi saluran napas akut atau dikenal dengan sebutan ISPA memang makin banyak dialami anak-anak.

"Banyak pasien anak yang datang keluhannya batuk pilek, pas dicek ternyata ISPA. Terutama pada pertengahan tahun," ujarnya.

ISPA, menurut Nevita sebenarnya merupakan penyakit yang muncul karena virus dan bakteri. Virus dan bakteri ini menyerang saluran pernapasan, sehingga terjadi peradangan yang menjadi ISPA.

Meski demikian, kondisi udara yang buruk seperti polusi yang terjadi bisa menyebabkan anak dan orang dewasa rentan terkena ISPA. Pasalnya, ada hubungan antara ISPA dan polusi udara yang terjadi.

"ISPA dan polusi sangat berkaitan. Sebab kondisi udara yang buruk menyebabkan gangguan keseimbangan kuman di saluran pernapasan. Makanya anak rentan terkena ISPA," kata dia.

Lebih lanjut, Nevita menjelaskan ISPA juga merupakan penyakit yang mudah menular. Jika orang tua yang lebih dulu terkena ISPA karena sering beraktivitas di luar, maka anak di rumah rentan tertular.

ISPA sebenarnya bukan jenis penyakit yang sangat berbahaya. Namun jika anak terlalu sering terkena ISPA tentu akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang mereka.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi kalimantan Barat, Erna Yulianti menyampaikan bahwa terjadi tren kenaikan dan penurunan kasus Penyakit ISPA di Kalbar yang disebabkan oleh asap sepanjang Agustus-September (minggu ke 34 hingga 38).

Data peyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada minggu ke-38 2023 di 14 Kabupaten Kota di Kalimantan Barat. (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat)

Berdasarkan laporan 14 kabupaten kota, untuk ISPA di Kalbar di minggu ke-34 mencapai 864 kasus. Kasus turun di minggu ke-35 yaitu sebanyak 525 kasus, sementara minggu ke-36 ada di 667 kasus.

“Artinya, minggu ke 34 menuju minggu ke 35 terdapat penurunan sekitar 33,9 persen kasus ISPA,” jelasnya.

Namun kasus melonjak pada minggu ke-37 yaitu sebanyak 6.129 kasus. Terjadi tren kenaikan yang signifikan pada periode ini, dan kembali melandai di minggu ke-38 sebanyak 4.264 kasus.

“Jadi kasus yang dilaporkan tidak semua, tapi dikarenakan faktor Asap. Namun ada juga penyakit lain yang berhubungan dengan penyakit infeksi saluran pernapasan,” ujar Erna.

Adapun kasus ISPA berdasarkan usia yang tersebar di kabupaten kota di Kalbar menjadi perhatian. Di minggu ke-38 menunjukkan data bahwa kelompok balita memiliki angka tertinggi kedua dalam kasus ISPA di Kalimantan Barat. Sebanyak 1.238 kasus dari 4.264 kasus atau sekitar 30 persen diderita oleh balita.

Dipengaruhi Faktor Tanah dan Iklim

ISPA di Kalbar tak lepas dari pengaruh kabut asap akibat karhutla. Di beberapa kabupaten kota di Kalbar kabut asap sudah menjadi tamu langganan. Tahun ini, sejak Agustus hingga Oktober, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan sudah masuk dalam tahap kritis.

Pada bulan Oktober lalu, Kalbar ditetapkan status tanggap darurat bencana asap karena kondisi karhutla yang semakin rawan. Kalbar pun masuk provinsi prioritas penanganan karhutla 2023.

Jumlah hotspot di enam Provinsi Prioritas Penanganan Karhutla di Indonesia (5 September-1 Oktober 2023) (IST)

Balai Pengendalian Perubahan Iklim (BPPI) menyebut terjadi peningkatan jumlah titik panas atau hotspot di Kalbar selama tahun 2023. Peningkatannya mencapai 300 hingga 400 persen dibandingkan tahun 2022.

Kepala Seksi Wilayah II Pontianak BPPI Wilayah Kalimantan, Sahat Irawan Manik mengatakan, peningkatan titik panas itu karena maraknya kebakaran hutan dan lahan.

"Eskalasinya sudah mencapai 50.000-an hotspot di Kalbar dengan rekor tahun lalu cuma belasan ribu hotspot saja. Jadi untuk tahun ini, hotspot di Kalbar terjadi kenaikan sekitar 300-400 persen karena tahun ini memang cukup marak sekali karhutla, Mulai dari Sambas, Singkawang, Kubu Raya, dan Ketapang," kata Sehat Irawan Manik di Singkawang, beberapa waktu lalu.

Meski pada periode itu sempat terjadi hujan, dia mengingatkan agar para petugas tidak terlena. Pasalnya dari hasil evaluasi yang dilakukan pihaknya, di beberapa lokasi karhutla masih menyisakan bara api.

Dalam jurnal penelitiannya, Fachrur Rozi, Dosen Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Tangjungpura Pontianak menyebutkan bahwa faktor alam yang mendukung terjadinya kebakaran hutan atau lahan di Provinsi Kalimantan Barat utamanya adalah struktur tanah gambut dan iklim.

Sifat tanah gambut menyerupai spons dimana pada kondisi normal akan menyerap dan menahan air secara maksimal, namun pada musim kemarau lahan ini akan menjadi kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar.

Parameter Fisik dan Kimia Tanah Gambut di Kalimantan Barat. (ISN Lab)

Dalam grafik di atas menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan dari lahan gambut alami menjadi lahan pertanian juga menyebabkan perubahan terhadap kondisi fisik dan kimia tanah gambut.

Gambut terdalam ditemukan pada gambut sekunder (598 cm), sedangkan pada perkebunan kelapa sawit sedalam 94.5 cm.

Gambut mengandung bahan bakar berupa sisa tumbuhan sampai di bawah permukaan tanah, sehingga jika terjadi kebakaran, api akan menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat dan sulit dideteksi, serta menimbulkan asap tebal.

Sementara itu, pada kurun waktu bulan Juli hingga September, unsur iklim yang menonjol dalam mendukung terjadinya karhutla di Kalbar dalah arah angin, curah hujan, dan fenomena El-Nino

Berdasarkan hasil laporan BMKG Maritim Pontianak (2023), pada bulan Juli hingga September nilai curah hujan di Provinsi Kalimantan Barat sangat sedikit. Hal ini dikarenakan awan yang mempunyai kandungan air terbawa angin menuju daerah utara. Kondisi ini berakibat musim kemarau yang cukup panjang di Kalbar.

"Pada beberapa kasus sebaran dan jumlah hotspot yang ditemukan berbanding terbalik dengan curah hujan di suatu daerah pada waktu tertentu. Pada saat curah hujan mengalami peningkatan, jumlah hotspot berkurang," ujarnya.

Sementara itu, mudahnya api mengalami penyebaran juga dipengaruhi oleh El-Nino yang sering terjadi pada bulan Juli hingga September, ditandai dengan curah hujan maksimum yang mundur waktunya dibandingkan pada kondisi normal.

El-Nino dapat menyebabkan lambatnya ketepatan waktu dan mundurnya awal musim hujan. Siklus El Nino tahun 2023 telah berkontribusi secara luas terhadap kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Barat.

Meskipun beberapa faktor alam tersebut di atas dapat mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kebakaran hutan dan lahan, tetapi faktor yang paling dominan penyebab terjadinya kebakaran adalah karena tindakan manusia.

Terjadinya kebakaran dikarenakan adanya kegiatan pembersihan lahan dengan cara membakar dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan maupun perusahaan perkebunan dan kehutanan.

Penanganan ISPA di Kalbar

Beberapa langkah dilakukan pemerintah Kalimantan Barat dalam penanganan terhadap pasien ISPA, termasuk balita.

Untuk menangani penderita ISPA, Dinas Kesehatan Kalimantan Barat telah menyiagakan 21.696 tenaga kesehatan yang tersebar di puskesmas, rumah sakit, dan pos kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, Erna Yulianti menjelaskan, puskesmas yang disiagakan sebanyak 244 unit dan rumah sakit yang disiagakan sebanyak sebanyak 48 unit.

"Kalbar menyiapkan rumah oksigen bagi para penderita ISPA terutama mereka yang mengidap asma, kasian masyarakat yang harus menderita karena asap,” ujarnya.

Setiap puskesmas di Kalbar maupun rumah sakit milik pemerintah sudah diperintahkan untuk menyiapkan oksigen di unit gawat darurat maupun instalasi rawat inap.

“Terutama untuk pelayanan darurat bagi pasien yang terkena dampak asap,” urainya.

Ia menerangkan, tujuan rumah oksigen adalah sebagai pertolongan pertama apabila ada warga yang mengalami sesak nafas. Rumah oksigen itu disediakan nebulizer.

Dinkes Kalbar juga telah menyiagakan Public Safety Center (PSC) 119 yang untuk sementara ini ada di Kabupaten Sambas. Ruang aman asap juga disediakan bagi masyarakat, ada tujuh ruang tanpa asap di Kota Pontianak yang dilengkapi dengan AC dan air purifier, serta mendirikan rumah oksigen.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak fenomena iklim El Nino yang akan memicu cuaca panas ekstrem di Indonesia pada Agustus-Oktober 2023 akan berlanjut hingga awal 2024.

Beberapa langkah dan strategi dilakukan bersama dengan lintas kementerian/lembaga dan kerja sama dengan pemerintah daerah.

Langkah-langkah itu mencakup pelaksanaan apel kesiapsiagaan dan kunjungan daerah, dukungan operasi darat berupa logistik dan perlengkapan pemadaman darat, teknologi modifikasi cuaca, sarana prasarana operasi udara berupa helikopter patroli dan water bombing, serta integrasi aplikasi pemantauan karhutla.**

*Liputan ini hasil program fellowship Peliputan Berbasis Sains yang diselenggarakan ISN Lab by SISJ dan didukung Google News Initiative.

Artikel ini sebelumnya telah terbit di Pontianak Post

Next
Next

Makassar, Kota Sehat yang Diarenya Meningkat