112 Kabupaten Kota Pesisir di Indonesia langganan banjir rob

Dalam dua puluh tahun terakhir ini di wilayah pesisir di Indonesia disajikan
sebuah fenomena pesisir bernama banjir rob atau coastal inundation akibat
dampak dari land subsidence dan sea level rise. Wilayah pesisir yang tercatat
mengalami banjir rob yang serius yaitu pesisir Pantai Utara Jawa atau
PANTURA, pesisir Pantai Timur Sumatera dan Pesisir Kalimantan. Menurut
hasil penelitian ditemukan setidaknya terdapat 112 Kabupaten Kota Pesisir
di Indonesia yang mengalami banjir rob. Lambat laun banjir rob kian meluas
dikarenakan masih terus terjadi Land Subsidence dan Sea Level Rise atau
kenaikan muka air laut, bahkan di beberapa tempat banjir menjadi
permanen, yang artinya daratan telah hilang menjadi lautan. Hal ini tentunya
menjadikan sebuah bencana yang nyata. Tidak sedikit kerugian materi yang
harus dikeluarkan akibat bencana banjir rob ini. Hitungan kasaran
konsekuensi biaya yang harus dikeluakan oleh Pemerintah sudah
menyentuh angka 1000 Trilyun Rupiah.

Karena sifat bencana-nya yang telah nyata menyebabkan kerugian, maka
banjir rob karena Land Subsidence serta Sea Level Rise harus kita sikapi
dengan serius, harus kita kurangi risiko bencananya melalui upaya
manajemen kebencanaan.

Langkah-langkah awal dalam rangka pengurangan risiko dilakukan oleh Pemerintah dengan cara pembuatan tanggul di pesisir Pantai, meninggikan infrastruktur pesisir hingga melakukan evakuasi penduduk pesisir di beberapa wilayah tertentu. Untuk Langkah-langkah yang lebih ultimate dan best practice kedepannya, harus dimulai dari pendalaman masalah, pemantauan dan pemetaan bahaya, kemudian dilanjutkan oleh upaya prevensi, mitigasi dan atau adaptasi yang lebih terukur.

Bertepatan dengan kegiatan bersama antara program LASII UNESCO
ANNUAL MEETING dan Pokja Nasional Land Subsidence Indonesia,
diselenggarakan acara Scientific Conference dengan tema “Insight Best
Practice of Management against Land Subsidence Disaster”, yang dalam hal
ini Institut Teknologi Bandung menjadi panitia penyelenggaran beserta
sponsor, melalui acara ini Kita dapat melihat bagaimana pembicara dari
berbagai negara memaparkan bagaimana kondisi land subsidence dan best
practice upaya penanganan bencananya di masing-masing negara. Melalui
acara ini kita dapat bertukar ilmu bertukar pengalaman tentang bagaimana
dapat mengurangi risiko bencana yang terjadi akibat land subsidence.

Secara garis besar dari pemaparan di conference memperlihatkan manajemen bencana yang ultimate akan melibatkan sisi non teknis berupa
keberadaan regulasi dan kelembagaan yang jelas, sehingga program dan
anggaran menjadi jelas pula. Dari sisi teknis manajemen disaster harus
dimulai dari pembangunan sistem monitoring, diagnosa masalah, pemetaan
potensi bencana, baru kemudian melakukan proses prevensi, mitigasi atau
pun adaptasi.

Sekali lagi karena sifat bencana-nya akibat land subsidence dan juga sea
level rise yang telah nyata menyebabkan kerugian yang tidak sedikit, secara
khususnya di Indonesia, maka kita harus bersama-sama menyikapinya
dengan lebih serius, harus kita berupaya semaksimal mungkin untuk
mengurangi risiko bencananya, salah satunya mengikuti beberapa rekomendasi dari hasil LASII UNESCO Scientific Conference.

Previous
Previous

Lokakarya Science Communication for Planetary Health (SciCoPH) 

Next
Next

Pemenang Lomba Foto Archipelago of Drought 2023