Indonesian Science Affairs Fellowship 2026

Perjalanan Membangun Ekosistem Jurnalisme Sains di Indonesia Dimulai

Jakarta, 28 Agustus 2026 — Sebuah perjalanan untuk memperkuat ekosistem jurnalisme sains di Indonesia segera dimulai. Berkolaborasi dengan Indonesian Science Affairs dan Science WatchDog.id, Society of Indonesian Science Journalists (SISJ) menyelenggarakan Indonesian Science Affairs Fellowship 2026, sebuah program intensif selama tiga bulan yang dirancang bagi calon jurnalis sains di Indonesia.

Setelah pendaftaran ditutup pada 31 Juli 2026, program ini menerima 92 aplikasi dari peserta dengan beragam latar belakang dan tahapan karier. Para pelamar berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, serta dari sejumlah daerah dan kepulauan seperti Batam, Bali, dan Ambon. Panggilan fellowship ini juga menjangkau calon peserta yang saat ini berada di luar Indonesia, termasuk di Kyoto, Adelaide, Utrecht, dan Seoul.

Dari puluhan pelamar tersebut, 12 peserta terpilih mengikuti dua sesi pre-fellowship. Dalam tahap ini, para peserta mendapatkan pengenalan mengenai dasar-dasar jurnalisme sains melalui kuliah dan lokakarya, termasuk membedakan jurnalisme sains dari komunikasi sains, memahami karakter dan keterampilan yang dibutuhkan seorang jurnalis, serta mengenal cara membaca jurnal ilmiah.

Dalam salah satu sesi, Dyna Rochmyaningsih, pendiri Indonesian Science Affairs dan anggota Dewan Penasihat SISJ, memperkenalkan prinsip dan praktik dasar jurnalisme sains. Ia menekankan pentingnya skeptisisme, kemampuan berpikir analitis, serta keterbukaan pikiran dalam meliput topik ilmiah.

Peserta juga diajak mengenali berbagai bentuk jurnalisme sains, mulai dari melaporkan perkembangan dan temuan ilmiah, menempatkan sains dalam konteks sosial, hingga meliput kebijakan sains di Indonesia.

Setelah melalui dua sesi pre-fellowship, enam peserta terpilih melanjutkan perjalanan mereka ke tahap utama Indonesian Science Affairs Fellowship 2026. Mereka adalah:

1.     Galih Widyanto

2.     Muflika Fuaddah

3.     Syahlan Faluthi

4.     Ayu Nabilah

5.     Susi Gustiana

6.     Gert Antonio Tobing

Mulai 28 Agustus 2026, keenam peserta akan mengikuti rangkaian kelas intensif yang menghadirkan jurnalis, akademisi, peneliti, dan praktisi berpengalaman di bidang sains dan jurnalisme.

Rangkaian Kelas

28 Agustus 2026 — Kinds of Science Journalism
Feature, hard news, investigasi, dan jurnalisme visual
Pengajar: Dyna Rochmyaningsih

4 September 2026 — Introduction to the Philosophy of Science
Membahas metode ilmiah, sifat falsifiable dalam sains, social compact of science, serta hubungan antara sains dan jurnalisme.
Pengajar: Ilham Ahsanu Ridlo

11 September 2026 — Finding Science Stories
Mengenali sudut pandang sains dalam sebuah cerita, serta memanfaatkan siaran pers dan jurnal ilmiah untuk menemukan ide liputan.
Pengajar: Dyna Rochmyaningsih

18 September 2026 — The Art of Interviewing Scientists
Riset dan persiapan wawancara, menyusun pertanyaan, serta memahami dan menjelaskan informasi ilmiah.
Pengajar: Dyna Rochmyaningsih

25 September 2026 — Writing Popular Science
Membahas gaya penulisan, struktur tulisan, dan penggunaan jargon dalam penulisan sains populer.
Pengajar: Dyna Rochmyaningsih & Maggie

2 Oktober 2026 — Reading Scientific Journals
Mengenal cara membaca dan memahami jurnal ilmiah sebagai bagian penting dalam proses peliputan sains.
Pengajar: Dyna Rochmyaningsih

9 Oktober 2026 — Scientific Integrity
Mempelajari cara menilai kualitas riset serta menelisik integritas ilmuwan dan proses penelitian.
Pengajar: Dyna Rochmyaningsih & Ilham Ahsanu Ridlo

16 Oktober 2026 — How Science Works and Metascience
Memahami bagaimana sains bekerja serta perkembangan kajian metascience.
Pengajar: Rizqy Amelia Zein

21 Oktober 2026 — Science Journalism in Environmental Reporting
Membahas penerapan prinsip jurnalisme sains dalam meliput isu-isu lingkungan.
Pengajar: Harry Surjadi

28 Oktober 2026 — Covering Science Controversy
Membahas strategi dan tantangan dalam meliput kontroversi sains.
Pengajar: Ashley Smart, Associate Director, Knight Science Journalism, MIT

Melalui rangkaian pelatihan ini, Indonesian Science Affairs Fellowship 2026 tidak hanya ditujukan untuk membekali peserta dengan keterampilan teknis menulis dan meliput sains. Program ini juga dirancang untuk memperkuat kemampuan peserta dalam memahami proses ilmiah, mengevaluasi bukti dan kualitas penelitian, mewawancarai ilmuwan, serta menyampaikan informasi ilmiah secara akurat dan kontekstual kepada publik.

Lebih dari sekadar program pelatihan, fellowship ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem jurnalisme sains yang lebih kuat di Indonesia—dengan mempertemukan calon jurnalis dari berbagai daerah dengan pengetahuan, mentor, dan jejaring yang dapat mendukung perjalanan mereka sebagai jurnalis sains.

Perjalanan itu kini dimulai.

Previous
Previous

Indonesian Science Affairs Fellowship 2026

Next
Next

Teknologi Pemetaan untuk Menjaga Bentang Lahan Indonesia Epistem Luncurkan Platform “Luma” untuk Pemetaan Partisipatif