Teknologi Pemetaan untuk Menjaga Bentang Lahan Indonesia Epistem Luncurkan Platform “Luma” untuk Pemetaan Partisipatif

Kawasan hutan mangrove di pesisir laut utara Jawa.. SISJ/Melvinas Priananda

Jakarta, 20 Mei 2026 — Upaya menjaga hutan, mencegah deforestasi, dan mengelola bentang lahan secara berkelanjutan tidak bisa dilakukan tanpa data yang akurat. Namun di lapangan, data pemetaan sering kali sulit diakses, mahal dibuat, dan belum terhubung antar wilayah maupun antar lembaga.

Berangkat dari tantangan itu, inisiatif Epistem (Evolving Participatory Information System for Nature-based Climate Solutions) meluncurkan platform pemetaan daring bernama Luma atau Pemetaan Lahan Untuk Semua dalam sebuah lokakarya nasional di Gedung A.A. Maramis, Jakarta, Rabu (20/5). Kegiatan ini digelar bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Lokakarya mengusung tema “Bangkit Datanya, Lestari Bentang Lahannya”, yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun kedaulatan data nasional untuk mendukung penanganan perubahan iklim dan pelestarian lingkungan.

Luma dikembangkan sebagai platform pemetaan yang dapat digunakan secara lebih terbuka dan partisipatif oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, peneliti, praktisi lingkungan, hingga komunitas lokal. Melalui platform ini, pengguna dapat berkontribusi memperbarui data penggunaan dan tutupan lahan secara bersama-sama.

Pengembangan Luma merupakan hasil kolaborasi antara International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA), Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Centre for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF), serta World Resources Institute (WRI) Indonesia.

Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Andes Hamuraby Rozak, mengatakan tantangan utama saat ini bukan hanya menjaga bentang lahan, tetapi memastikan setiap keputusan diambil berdasarkan data yang terbuka dan dapat dipercaya.

“Kita tidak bisa menjaga apa yang tidak bisa kita lihat. Dan kita tidak bisa mengambil keputusan yang baik tanpa pengetahuan dan data yang baik,” ujarnya dalam pidato kunci.

Sementara itu, Senior Research Scholar IIASA, Ping Yowargana, menilai kebutuhan terhadap data spasial yang kaya informasi sering terkendala persoalan teknis dan biaya tinggi.

Menurutnya, Luma diharapkan dapat membantu mengatasi hambatan klasik tersebut dengan menghadirkan sistem pemetaan yang lebih mudah diakses dan digunakan banyak pihak.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Program Indonesia CIFOR-ICRAF, Andree Ekadinata, dan Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN, Asep Hidayat. Keduanya menilai pengembangan teknologi pemantauan bentang lahan perlu dilakukan secara kolaboratif agar dapat mendukung penerapan solusi berbasis alam di Indonesia.

Sebelum diluncurkan secara nasional, Luma telah diuji coba di Sumatera Selatan dan diperkenalkan kepada komunitas praktisi di Sulawesi Selatan serta Nusa Tenggara Timur. Platform ini menjadi bagian dari ekosistem inovasi Epistem yang juga mencakup pustaka metodologi terbuka, data referensi bersama, serta mekanisme “rembuk peta” atau mapathon untuk memperbarui data secara kolaboratif.

Melalui pendekatan tersebut, pembaruan data penggunaan dan tutupan lahan diharapkan dapat dilakukan lebih cepat, fleksibel, dan saling terhubung antar wilayah maupun antar instansi.

Inisiatif ini juga diarahkan untuk mendukung target Indonesia dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) dan strategi FOLU Net Sink 2030, yang menitikberatkan pada keseimbangan antara penyerapan karbon, pelestarian keanekaragaman hayati, dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam lokakarya peluncuran, peserta mengikuti berbagai sesi mulai dari diskusi pengelolaan bentang lahan partisipatif, pengenalan filosofi pengembangan teknologi Epistem, demonstrasi penggunaan Luma, hingga pembahasan rencana rembuk peta nasional.

Berbagai komunitas dari sejumlah daerah juga berbagi pengalaman menggunakan Luma untuk kegiatan pemetaan di wilayah mereka masing-masing.


Selain memperkenalkan platform baru, forum ini menjadi ruang untuk menghimpun masukan dari pengguna agar pengembangan fitur Luma semakin sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Melalui peluncuran Luma, Epistem berharap gerakan pemetaan partisipatif di Indonesia semakin berkembang, sekaligus memperkuat kolaborasi antar insan dalam menjaga keberlanjutan bentang lahan Indonesia di masa depan.

Next
Next

Seminar oleh Université Paris-Saclay: Prancis Perkuat Kerja Sama dengan Indonesia di Bidang Kecerdasan Buatan