Meliput Krisis Air

Dalam webinar ‘Meliput Krisis Air” yang dilaksanakan SISJ pada 11 Maret lalu, dua ilmuwan terkemuka dari Indonesia dan Amerika Serikat menyajikan paparannya mengenai isu krisis air di kedua negara. Satu hal yang pasti, bahwa ancaman krisis air semakin nyata di berbagai negara di seluruh dunia. Perubahan iklim menjadi penyebab utama yang memperparah berbagai permasalah krisis air secara global. Peran jurnalis dibutuhkan untuk mengangkat isu penting ini ke ranah publik agar kebijakan-kebijakn pro-sains bisa diambil oleh para pengambil kebijakan.

 

Balaji Rajagopalan, ilmuwan dari Universitas Colorado, Amerika Serikat, membahas bagaimana perubahan iklim dan pemakaian berlebih sumber daya air telah menyebabkan penurunan jumah air di sungai Colorado selama 20 tahun terakhir. Salju yang mencair, sebagai sumber utama air bersih di sungai tersebut telah berkurang karena adanya kenaikan temperature di daerah tersebut. Sedangkan pada saat yang bersamaan, penambahan jumlah penduduk di kota-kota besar yang berada di hilir sungai Colorado meningkatkan permintaan air bersih setiap tahunnya. Ditambah lagi, daerah hilir ini adalah penghasil sayur-sayuran bagi banyak kota di Amerika Serikat. Pemerintah AS saat ini sedang menggodok kebijakan untuk mengatasi ancaman krisis air ini. Sebagian masyarakat diminta untuk menghemat penggunaan air mereka, misalnya saja kebijakan meniadakan halaman rumput di sebagian daerah terdampak.

 

Lain halnya dengan Indonesia. Alih-alih masalah kuantitas, krisis air di Indonesia adalah “masalah kualitas”, ujar Heri Andreas. Indonesia memiliki air yang berlimpah. Setidaknya ada 564 sungai di Indonesia dan lebih dari setengahnya tercemar berat. Akibatnya, masyarakat, pemerintah, dan industry lebih memilih untuk menggunakan air tanah (groundwater). Menurut Heri Andreas, eksploitasi berlebih air tanah telah menyebabkan banyak dampak negative yang berpengaruh negative terhadap lingkungan dan kesediaan air bersih itu sendiri. Eksploitasi berlebih telah menyebabkan penurunan permukaan tanah (land subsidence) di kota-kota sepanjang pesisir utara pulau Jawa. Ini akan mengakibatkan banjir rob di daerah pesisir (sebagian besar sudah permanen) dan mengakibatkan masuknya air laut ke dalam air tanah (sea-water intrusion).

Drought illustration. Image credit: Wikicommons


Heri melihat permasalahan ini sebagai wujud pengelolaan air yang kurang tepat di Indonesia (water mismanagement). Pemerintah seharusnya tidak hanya mengandalkan eksploitasi air tanah, ujarnya. Indonesia bisa memulai dengan pengelolaan air sungai dan menurutnya itu bisa dilakukan jika pemerintah mau serius menanggapi masalah ini. Namun Balaji tidak ingin menyalahkan pihak pemerintah seluruhnya. Tekanan dari public bisa mempengaruhi proses pengambilan kebijakan, ujarnya. “Dan adalah tugas jurnalis sains seperti kalian untuk mengangkat isu penting ini ke ranah publik…agar mereka mengerti pentingnya dan betapa mendesaknya isu ini untuk diselesaikan,”

Previous
Previous

Archipelago of Drought Journalism Fellowship

Next
Next

Meliput Resiko Cuaca Ekstrem