Meliput Resiko Cuaca Ekstrem
Cuaca di Indonesia begitu kompleks dan sulit diprediksi. Jurnalis harus memahami istilah meteorologi dan berbicara dengan sejumlah narasumber yang tepat untuk mengkomunikasikan resiko cuaca ekstrem.
Image credit: Suparerg Suksai (Pexels)
Di tengah krisis iklim global yang sedang berlangsung, kejadian-kejadian yang terkait dengan cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Indonesia, sebuah negara kepulauan yang berada di antara dua benua dan dua samudra, menjadi lokasi dengan resiko bencana cuaca ekstrem yang sulit diprediksi namun juga berpotensi untuk menyebabkan kerugian di masyarakat. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa lebih dari 80% bencana yang terjadi di Indonesia di tahun 2022 terkait dengan aktivitas hidrometeorologi.
Membuat prakiraan cuaca di Indonesia bukanlah perkara mudah, ujar Deni Septiadi, associate professor di Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG) di webinar yang diselenggarakan SISJ, Sabtu 14 Januari 2023 . Menurutnya, ada berbagai macam faktor yang menyebabkan cuaca di Indonesia sulit diprediksi. Ada Indian Ocean Dipole dari Samudera Hindia, angin muson yang bertiup dari Asia ke Australia, El Nino dari Samudera Pasifik yang datang dari arah timur, dan Madden Julian Oscillation, sebuah pola perubahan suhu yang lazim terjadi di perairan tropis. Semua faktor ini mempengaruhi kejadian-kejadian cuaca di Indonesia. Banjir, kekeringan, angin kencang, putting beliung, ditentukan dari interaksi faktor-faktor tersebut.
“Kita tinggal dalam daerah yang sangat dinamis dan rawan bencana,” ujar Fachri rajab, Kepala Meteorologi Publik, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Informasi dan peringatan dini yang solid secara ilmiah penting untuk disebarluaskan untuk mencegah kerugian yang diakibatkan oleh cuaca ekstrem. Namun sayangnya, akhir-akhir ini, banyak mis-informasi tersebar di kalangan publik. Jurnalis dan saintis adalah dua aktor utama yang berperan penting menyampaikan informasi ini. Strategi komunikasi sains yang tepat diperlukan oleh keduanya. Menurut pandangan ilmuwan, “Media adalah salah satu pihak yang paling efektif dalam diseminasi informasi meteorologi,’ ujar Fachri. Sedangkan menurut jurnalis, “Ilmuwan boleh (perlu didorong) untuk menyampaikan hasil risetnya ke public, termasuk terkait potensi cuaca ekstrem,” ujar Ahmad Arif, jurnalis sains dan lingkungan KOMPAS.
Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara jurnalis dan saintis untuk menyebarkan informasi resiko cuaca ekstrem yang tepat dan bertanggung jawab. Namun selama ini, ada banyak kesalahan yang terjadi. Salah satunya adalah kesalahpahaman jurnalis dan saintis akan istilah-istilah meteorologi, ujar Deni. Berkaca dari kasus Erma Yulihastin, peneliti BRIN yang memberikan peringatan “badai dahsyat” di akhir Desember tahun lalu, perbedaan pandangan akan definisi meterologi ini bisa menyebabkan miskomunikasi yang bisa merugikan banyak pihak.
Sedangkan Fachri mengatakan bahwasanya peringatan dini cuaca harus dilakukan oleh pihak yang otoritatif, dalam hal ini BMKG. “Single authoritative source diperlukan untuk mencegah kebingungan di masyarakat,” ujar Fachri. Otoritas BMKG bukannya tidak berdasar. Dalam menganalisis cuaca di Indonesia, BMKG tidak hanya bergantung pada data satelit dan model matematika, tetapi juga pada data-data lapangan yang dikumpulkan di setiap stasiun pengamatan di seluruh Indonesia.
Berbagai jenis data yang dipakai BMKG dalam menganalisis cuaca. Image credit: Fachri Rajab, BMKG
Arif setuju dengan pandangan Fachri. Analisis yang disebutkan Erma dalam cuitannya di Twitter seharusnya berada dalam ranah diskursus saintifik, ujarnya. “Semua pemodelan tidak ada yang sempurna,” ujarnya. Namun itu seharusnya hanya berlangsung dalam perdebatan ilmiah dan tidak seyogyanya menjadi peringatan dini bagi publik. Mengacu pada peraturan yang ada, BMKG lah yang seharusnya menyampaikan peringatan dini. Ini adalah tahapan yang politis.
Berkaca dari hal ini, Arif menekankan pentingnya jurnalis bersikap skeptis terhadap pernyataan ilmuwan. Kita seharusnya tidak langsung mengutip dan menerbitkan beritanya, tetapi harus kita kaji “Seberapa akuratkah analisisnya?” “Apakah ia adalah sumber yang otoritatif?” Jurnalis juga seharusnya menelisik metodologi dan data yang digunakan untuk kemudian dibandingkan dengan narasumber kedua. Sebuah golden rule dalam jurnalisme sains. “Bagaimanapun juga, verifikasi adalah kuncinya,”
Berikut tips dan trik yang disarikan dari narasumber ketika seorang jurnalis ingin meliput cuaca ekstrem:
1. Memahami bahwa cuaca di Indonesia begitu kompleks dan dipengaruhi banyak faktor
2. Memahami istilah meteorologi yang digunakan
3. Teliti dalam membaca data dan grafis yang diberikan.
4. Poin 2 dan 3 didapat dengan berbicara pada narasumber yang tepat. Terkait peringatan dini bencana, maka ia harus mencari informasi dari pihak otoritatif, dalam hal ini BMKG.
5. Prakiraan cuaca harian bisa dibuat oleh berbagai sumber namun tidak dengan peringatan dini bencana cuaca ekstrem.
6. Skeptis dengan pernyataan ilmuwan dengan selalu mencari komentar ahli kedua yang independent dari pertama (berbeda lembaga namun satu keahlian)
Link to webinar recording in Youtube.
Link to website materials